Sistem evaluasi

SISTEM EVALUASI

Dosen pengampu : Farninda Aditya,M.Pd


OLEH :

Ismuniarsih 

12001213


PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

IAIN PONTIANAK


Secara etimologi “ evaluasi” berasal dari bahasa Inggris yaitu evaluation dari akar kata value yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa Arab disebut al-qiamah atau al- taqdir’ yang bermakna penilaian (evaluasi). Sedangkan secara harpiah, evaluasi pendidikan dalam bahasa Arab sering disebut dengan al-taqdiraltarbiyah yang diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.

Pengertian evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek dan yang lainnya) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian. Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan dengan kriteria umum, dapat pula melakukan pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian membandingkan dengan kriteria tertentu. Dalam pengertian lain antara evaluasi, pengukuran, dan penilaian merupakan kegiatan yang bersifat hirarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam kegiatan pembelajaran adalah proses membandingkan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif, sementara pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif.

Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai selama mengikuti pendidikan. Bagi peserta didik dengan evaluasi ia akan mengetahui kemampuan perkembangan grafik belajarnya, apakah ada kemajuan atau tidak, ataukah semakin menurun. Apakah ia naik kelas atau tidak, ataukah ia lulus dalam ujian sekolah atau tidak lulus. Bagi orang tua, mereka akan mudah untuk mengetahui bahwa anaknya memiliki kualitas atau tidak, naik ke kelas berikutnya atau tidak. Ini dapat dilihat dari buku laporan hasil pendidikannya. Begitu juga bagi pihak sekolah. Kepala sekolah serta semua guru-guru akan dapat mengetahui bagaimana perkembangan grafik kelulusan sisiwanya setiap tahun. Demikian juga dengan peserta didik-peserta didiknya yang tidak naik kelas berikutnya.

Ada 2 tekhnik dalam evaluasi yaitu :

1.    Tes

Tes merupakan sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban yang benar atau salah. Tes diartikan juga sebagai sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, atau sejumlah pernyataan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tetentu dari orang yang dikenai tes. Hasil tes merupakan informasi tentang karakteristik seseorang atau sekelompok orang. Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya tingkat kemampuan manusia secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap sjumlah stimulusatau pertanyaan. Oleh karena itu, agar diperoleh informasi yang akurat dibutuhkan tes yang handal.

Hasil tes bisa digunakan untuk memantau perkembangan mutu pendidikan. Hasil tes untuk tujuan ini harus baik, yaitu memilki kesalahan pengukuran yang sekecil mungkin. Kesalahan Kesalahan pengukuran ini dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu kesalahan acak dan sistemik. Kesalahan acak disebabkan karena kesalahan dalam menentukan sampel isi tes, variasi emosi seseorang, termasuk variasi emosi pemeriksa lembar jawaban jika lembar jawabanpeserta tes diperiksa secara manual. Sedangkan keslahan sistemik adalah kesalahan yang disebabkan karena soal tes terlalu mudah atau terlalu sukar. Ada pendidik yang cenderung membuat tes yang terlalu sulit, tetapi ada juga yang cenderung selalu membuat tes yang mudah. Selain itu ada pula pendidik yang pemurah,dan ada yang mahal dalam memberi skor. Hal-hal ini merupakan sumber kesalahan yang sistemik.

Beberapa istilah yang sering digunakan dalam kaitan dengan tes, yaitu testing, testee, dan tester. Testing adalah waktu dimana tes dilaksanakan, atau waktu pelaksanaan tes. Testee adalah orang yang dikenai tes, atau orang yang mengerjakan tes. Sedangkan tester adalah orang melakukan tes, atau pelaksana tes.

2.    Non tes

Dalam proses belajar mengajar (pembelajaran), penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan, satu kesatuan yang utuh dengan pembelajaran. Dalam konsep kurikulum berbasis kompentensi seperti K13, menuntut terpenuhinya tiga ranah sebagai indikator keberhasilan. Tiga ranah ini adalah kemampuan berpikir, keterampilan melakukan pekerjaan, dan perilaku. Setiap siswa memiliki potensi pada dua ranah, yaitu kemampuan berpikir dan ketarampilan, namun tingkatannya dari satu siswa ke siswa yang lain bisa berbeda.40 Ada siswa yang memiliki kemampuan berpikir tinggi, namun keterampilan rendah. Demikian juga sebaliknya, ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir rendah, namun memiliki keterampilan yang tinggi. Ada pula peserta didik yang memiliki kemampuan berpikirnya biasa, demikian pula keterampilannya juga biasa, tidak ada yang menonjol. Namun jarang sekali ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikirnya rendah dan keterampilannya rendah. Karena apabila demikian, sulit bagi peserta didik untuk bisa hidup dimasyarakat, karena tidak memiliki potensi untuk hidup di masyarakat.

Hampir semua pelajaran memerlukan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir termasuk pada ranah kognitif, meliputi kemampuan menghapal, kemampuan memahami, kemampuan menerapkan, kemampuan menganalisis, kemampuan menevaluasi, dan kemampuan mencipta atau dalam istilah taksonomi hasil revisi taksonomi Bloom yaitu mampu untuk menguasai dimensi proses kognitif. Kemampuan yang penting pada ranah kognitif adalah kemampuan menerapkan konsep-konsep untuk memecahkan masalah yang ada dilapangan. Kemampuan ini sering disebut dengan kemampuan menstransfer pengetahuan ke berbagai situasi sesuai dengan konteksnya. Hal ini berkaitan dengan pembelajaran kontekstual. Hampir semua mata pelajaran berkaitan dengan kemampuan kognitif, karena didalamnya diperlukan kemampuan berpikir untuk memahaminya.

Kemampuan yang kedua adalah keterampilan psikomotor, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan gerak, yaitu yang menggunakan otot seperti lari, melompat, melukis, berbicara, menbongkar dan memasang peralatan, dan sebagainya. Peringkat kemampuan psikomotorik ada lima, yaitu gerakan reflek, garakan dasar, kemampuan perseptul, kemampuan fisik, gerakan terampil, dan komunikasi nondiskursip. Gerakan reflek adalah respon motor atau gerak tenpa sadar yang muncul ketika bayi lahir. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada keterampilan komplek yang khusus. Siswa yang telah mencapai kompetensi dasar pada ranah ini mampu melakukan tugas dalam bentuk keterampilan sesuai dengan standar atau kriteria.

Kemampuan perceptual adalah kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor atau gerak. Kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil. Gerakan termpil adalah gerakan yang mampu dilakuakan siswa sehingga menghasilkajn produk yang optimal, seperti keterampilan melakukan gerak tari, keterampilan mengendarai sepeda atau sepeda motor. Untuk mencapai gerakan terampil, pesertab didik harus belajar secarasistemati melalui langkah-langkah tertentu. Gerakan yang telah dipelajari peserta didik akan tersimpan lama, sehingga apabila siswa salah dalam mempelajari gerakan psikomotot maka sulit untuk memperbaikinya. Oleh karena itu guru harus merancang dengan baik pembelajaran psikomotor sehingga mencapai standar

Ada dua acuan yang digunakan dalam melakukan teknik penilaian dalam evaluasi, yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Kedua acuan ini menggunakan asumsi yang berbeda tentang kemampuan seseorang. Teknik analisis butir pada kedua acuan ini ada yang sama namun ada yang berbeda. Asumsi yang berbeda akan menghasilkan informasi yang berbeda. Penafsiran hasil antara kedua acuan ini berbeda sehingga menghasilkan informasi yang berbeda maknanya. Pemilihan acuan yang tepat ditentukan oleh karakteristik bidang studi yang diukur dan tujuan yang dicapai.

Dilihat dari perencanaan tes dan penafsiran hasil tes, pengukuran dalam bidang pendidikan bisa didasarkan acuan norma atau acuan kriteria. Acuan norma dan kriteria dalam memilih bahan tes pada prinsispnya tidak berbeda, namun dalam penafsiran hasil tes yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan asumsi yang berbeda.

Menurut penulis bahwa ada dua acuan yang digunakan dalam teknik menyiapkan tes dan menafsirkan hasil tes, yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Kedua acuan ini menggunakan asumsi yang berbeda tentang kemampuan seseorang. Penafsiran hasil tes antara kedua acuan ini berbeda sehingga menghasilkan informasi yang berbeda maknanya. Pemilihan acuan yang tepat ditentukan oleh karakteristik bidang studi yang akan diukur dan tujuan yang akan dicapai.


sumber : Idrus. Evaluasi Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol.9, No.2. Agustus 2019.

Komentar