LAPORAN BACAAN
KULTUR SEKOLAH
Dosen pengampu : Farninda Aditya,M.Pd
OLEH :
Ismuniarsih
12001213
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
IAIN PONTIANAK
KULTUR SEKOLAH
Konsep
kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia
industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk
berlangsungnya suatu proses produksi (baca: pembelajaran) secara efektif dan
efisien. kultur sekolah dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan,
sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan
untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang
dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang
perjalanan sebuah sekolah.
Elemen-elemen Kultur Sekolah
Bentuk
kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik,
karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah
pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas
bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan
membangun kinerja sekolah.
Disebutkan
dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa
kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan
pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan
yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior,
kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritus-ritus,
simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda sopan santun dan cara
berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan
norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut
kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar.
Lapisan kedua semuanya tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan
bersama. Jika lapisan pertama yang berintikan norma perilaku bersama sukar
diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat
sukar diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.
Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja
Sekolah
Kinerja
sekolah adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang
dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja
dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar
dan atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dan
daya kerja sama, kemampuan untuk berprakarsa dan memperhitungkan resiko serta
sikap pencapaian prestasi dalam persaingan.
Ada
pendapat ahli yang mengemukakan bahwa sekolah sebagai suatu sistem memiliki
tiga aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yakni proses
belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah.
Kultur
sekolah dapat memperbaiki kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat,
solid, kuat, positif dan profesional. Artinya kultur sekolah seyogyanya menjadi
komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah, bahkan didukung
oleh stakeholder-nya. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan,
kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat
diciptakan.
Sejalan
dengan berbagai pengertian budaya atau kultur yang dikemukakan dalam uraian
sebelumnya maka dapat dipahami bahwa konsep kultur sebagai suatu pendekatan
dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada
penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan
membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan
kultur berbeda dengan pendekatan struktur. Pendekatan yang terakhir ini
cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal besar dengan mengubah struktur untuk
mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataanya terlalu kuat
untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan
kultur justru mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau
dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya
tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang
bersifat positif. Oleh karena banyak kalangan meyakini bahwa keberhasilan seseorang
tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan IQ yang tinggi semata melainkan dipengaruhi
juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur-unsur kepribadian.
Pendidikan
pada dasarnya adalah proses respon psikologik anak terhadap rangsangan eksternal
dari kondisi baik yang sifatnya alamiah, maupun yang sifatnya terjadi secara
spontan sebagai manifestasi budaya guru dan siswa secara umum, dan kondisi
artifisial yang diciptakan oleh sekolah. Dengan demikian pengembangan kultur
sekolah berarti pengembangan kultur akademik, kultur sosial dan kultur
membangun pribadi anak yang kondusif, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan
pencapaian belajarnya.
Kultur
sekolah ini memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik
kehidupan di sekolah. Kultur sekolah merupakan faktor kunci yang menentukan
pencapaian prestasi akademik maupun non akademik, dan keterlaksanaan proses pembelajaran
bagi siswa.
Kultur
sekolah bukan sekedar kultur di sekolah. Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap
sekolah. Masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas
melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah.
Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan
aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti:
visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan
kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun
sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut
sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan
memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi. Adapun
kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi
pengembangan:
·
Prestasi Akademik
Di sekolah yang
menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik
(academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.
Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok
yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai
prestasi akademik daripada prestasi lainnya.
·
Non-Akademik
Prestasi non-akademik
juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga,
seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat
dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai,
sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir
secara kritis, berperilaku humanis.
·
Karakter
Karakter berkaitan
dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada
dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan
yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan
yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang berkembang
menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan
karena paksaan dari luar.
·
Kelestarian Lingkungan Hidup
Sejumlah sekolah di berbagai level
(SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata,
yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu
diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun
demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa
diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan.
Realitas
menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada
faktor yang tak terlihat. Karenanya, menekankan perbaikan pendidikan di sekolah
pada proses restrukturisasi semata, tidak lagi memadai. Namun demikian,
restrukturisasi yang bersifat struktural dan rekonstruksi yang bersifat
kultural tidak perlu saling menegasikan dalam praktiknya.
Imtihan, Nurul. Kultur Sekolah Dan Kinerja Peserta Didik. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol 6 No 2, Agustus 2018.
Komentar
Posting Komentar