Guru si pengayuh sepeda

48 tahun yang lalu, lahir seorang pemuda yang bernama Darmawadi. Tepatnya pada tanggal 27 Januari  1974. Beliau adalah paman saya. Lahir disebuah dusun yang bernama Dusun Teluk Keramat, Desa Sungai Serabek, Kabupaten Sambas. Beliau adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Beliau juga mempunyai seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Ayahnya bernama Hamidi yang bekerja hanya sebagai buruh karet dan petani. Ibunya bernama Dare yang juga membantu sang ayah bertani. Darmawadi dan keluarga hidup dalam kesederhanaan dan bahkan serba kekurangan. Beliau tinggal disebuah desa yang jauh dari keramaian kota bahkan pada saat itu penerangan pun masih menggunakan lampu minyak tanah dan belum ada listrik. 

Pada usia 6 tahun beliau masuk SD. Walaupun kurang perhatian dari orang tua karena sibuk bekerja, tetapi beliau termasuk anak yang cerdas dan sering meraih prestasi di kelas sebagai juara kelas. Tapi sayang, menginjak bangku kelas 2 SD, beliau terserang penyakit demam panas. Orang tuanya saat itu tidak ada biaya untuk berobat dan akses menuju rumah sakit yang jauh serta jalan untuk ke rumah sakit rusak parah yang akhirnya mengakibatkan mata sebelah kirinya harus kehilangan penglihatan (cacat mata). Dan setelah 2 tahun kemudian barulah beliau melanjutkan sekolah lagi. Walaupun dengan mata yang cacat, beliau tetap semangat untuk sekolah dan bahkan masih bisa meraih prestasi di kelasnya hingga kelas 6 SD. 

Setelah tamat SD, beliau mendaftar sekolah ke SMPN Pimpinan yang ditempuh dengan bersepeda sekitar setengah jam atau bahkan lebih karena ada perbaikan jalan. Saat SMP, beliau salah satu siswa favorit karena selalu berprestasi dibidang pelajaran. Beliau bahkan sering menjadi juara umum di sekolah. Beliau juga aktif diorganisasi Osis. Berkat semua prestasi dan keaktifannya diorganisasi, kepala sekolahnya saat itu langsung mengambil kebijakan untuk menggratiskan semua biaya sekolahnya termasuk spp dan lain-lain. Pada saat ujian nasional nilai evaluasi murni yang dulu disebut dengan NEM, beliau lah yang paling tinggi NEM nya jauh dari teman-teman nya. 

Lulus SMP, beliau melanjutkan sekolah ke SMEA Negeri di Sekura yang ditempuh dengan bersepeda dan dilanjutkan dengan menyebrang sungai menggunakan kapal motor, lalu berjalan kaki sekitar 1 km. Walaupun dengan keterbatasan fisik, beliau tetap semangat untuk bersekolah. Beliau juga selalu berprestasi di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa prestasi. Untuk mengambil beasiswa pada saat itu harus ke kota Singkawang. Dan uang beasiswa tersebut  cukup untuk membayar spp, membeli buku dan peralatan sekolah lainnya. Walaupun demikian, beliau pun tamat juga dengan nilai yang baik. 

Setelah lulus dari SMEA, beliau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi kerena tidak ada biaya dan perguruan tinggi nya pun hanya ada di kota Singkawang. 

Darmawadi  membiaya diri sendiri dengan berjualan es lilin berkeliling dari kampung ke kampung. Waktu itu beliau hanya mendapat gaji Rp. 5000 saja. Tidak hanya itu, beliau juga membuka les private di rumah untuk anak SMP bidang study bahasa inggris. Antusias anak-anak untuk belajar pun begitu besar. Setiap anak yang ingin melanjutkan ke SMP, beliau lah yang mengantar anak didik nya untuk mendaftar, sehingga kepala sekolah SMP tempat beliau sekolah dulu menawarkan untuk menjadi tenaga pengajar dibidang study bahasa inggris. Beliaupun menerima dengan senang hati. Berita itupun disampaikannya kepada kedua orang tua. Merekapun ikut senang, tetapi juga memikirkan baju apa yang harus dikenakan anaknya untuk mengajar. Sang ibu pun akhirnya membeli baju dengan cara dicicil. Setelah menjadi guru walaupun masih honor, beliau berhenti jualan es, hanya melanjutkan les private bahasa inggris untuk anak-anak. 

Berselang beberapa tahun beliau menjadi guru, akhirnya ada pembukaan perguruan tinggi yang berpusat di Singkawang dan membuka cabang di Sekura. Bersama beberapa orang teman, beliau pun mendaftar ke perguruan tinggi yang bernama STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah). Dalam 1 minggunya hanya ada 3 kali pertemuan saja. Sang ibu saat itu tidak setuju dengan  Darmawadi  kuliah karena lagi-lagi masalah biaya. Tapi beliau tetap bersi keras untuk tetap kuliah demi cita-cita menjadi PNS. Dengan sedikit tabungan dari menjadi guru honor, beliau pun mendaftar di STIT dan resmi menjadi mahasiswa STIT. 

Selama menjadi guru di SMP, beliau juga aktif di pramuka. Berkemah kemana-mana dan bahkan kadang harus mengorbankan kuliahnya. Pada akhir masa kuliahnya, beliau harus merelakan sang ayah dipanggil oleh yang maha kuasa karena sakit. Tanpa kesedihan yang berkepanjangan beliau tetap harus semangat karena harus membuat tugas skripsi untuk kuliahnya. Tapi sayang, semua bahan yang dikumpulkan untuk membuat skripsi dicuri oleh seorang teman yang berkhianat. Tanpa bisa berbuat apa-apa lagi karena wisuda sudah didepan mata dan beliau juga tidak bisa mengumpulkan uang untuk wisuda yang saat itu biayanya sekitar 5 jutaan. Dan akhirnya beliau tidak melanjutkan kuliahnya dan tetap menjadi guru honor. Untuk menjadi PNS pun tidak bisa dilanjutkan, karena terbentur usia yang saat itu sudah hampir mencapai 37 tahun. Tapi semangatnya untuk membuat anak-anak didiknya tetap bersekolah cukup tinggi. 

Setahun kemudian, Darmawadi pun menikah dengan seorang perempuan yang bernama Noraya dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Ade irma. Dari usia dini sang anakpun sudah beliau ajarkan berbagai ilmu bermanfaat, tak terkecuali bahasa inggris. Waktu SD, sang anak juga murid yang cerdas dan berprestasi seperti ayahnya.

Sekarang, Darmawadi juga masih merawat sang ibu yang tinggal sendirian, karena adik laki-laki dan adik perempuannya yang sudah lebih dahulu menikah, sudah punya rumah sendiri dan tinggal jauh dari kampung halaman. Bertemu pun terkadang hanya setahun sekali bahkan lebih dan hanya disaat hari lebaran saja. 


Ini lah foto Pak darmawadi. Beliau adalah tipe orang yang gigih dan pekerja keras. Hingga beliau diberi penghargaan sebagai seorang motivator dan inspirator dari Bupati Sambas. Kerena kegigihannya dalam membawa anak didiknya melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Dan bahkan sudah banyak dari anak didiknya yang menjadi pegawai negeri. Kisah hidupnya juga pernah ditulis oleh seorang anak didiknya dalam sebuah film dokumenter pendek. Namanya semakin dikenal bukan hanya dimasyarakat tempat beliau tinggal, bahkan beliau dikenal juga dimasyarakat luar. Orangnya yang ramah dan suka bergaul membuat beliau disukai semua kalangan masyarakat, baik kecil besar, tua dan muda. Beliau juga aktif di organisasi desa, seperti Karang Taruna, remaja mesjid, ketua panitia berbagai lomba dan banyak lagi. Beliau juga pernah terpilih menjadi ketua BPD. Kesehariannya yang selalu sibuk, membuatnya jarang berkumpul dengan keluarga kecilnya. Tapi beliau selalu mengingatkan kepada keluarga nya untuk tetap beribadah seperti shalat, mengaji dan ibadah lainnya, karena beliau juga orang yang taat dalam beribadah. 

Diusia senjanya beliau masih menjadi guru honor yang sekarang telah mengajar kurang lebih 20 tahun lamanya. Keinginan beliau untuk menjadi PNS sangat besar, namun mungkin belum rezekinya. Walaupun demikian beliau tetap semangat untuk mengajar. Kegigihan dan semangatnya itu juga yang memotivasi saya untuk menjadi seperti beliau dan selalu menjadi orang yang lebih baik dan selalu taat dalam beribadah. Saya bangga mempunyai paman seperti beliau. 




Komentar

Posting Komentar